Latest News

.

.

Sabtu, 10 Oktober 2015

Polisi Bertindak Brutal dan Arogan, Ini 5 Pernyataan SKP HAM Papua


Salah seorang biarawan Katolik dari Ordo Fransiskan Provinsi Papua, Yulianus Pawika ketika diintimidasi polisi di Abepura, Kamis – Jubi/Beny Mawel
Jayapura, Jubi – Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia (SKP-HAM) mengatakan tindakan pihak Kepolisian Resort Kota (Polresta) Jayapura Kota ketika melakukan aksi damai  hendak menuju kantor DPRP dan Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua dalam rangka Melawan Lupa atas atas kasus Paniai Berarah, 8 esember 2014. Aksi ini juga  menyongsong peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM), 10 Desember 2015 mendatang akhirnya dibubarkan oleh Polisi dibawah komandan lapangan, Wakapolresta Jayapura Kota, Kompol Albertus Adreana.

“Yang kami sangat sayangkan dalam pembubaran paksa aksi damai itu sejumlah simpatisan yang terdiri dari mahasiswa,aktivis, pemuda, biarawan telah ditangkap, dipukuli lalu dimasukan dengan sangat kasar yang paling tidak beretika ke truck Dalmas Polresta Jayapura dan diamankan ke kantor Polsek Abepura. Tidak hanya itu, polisi juga bertindak arogan dan kasar terhadap sejumlah rekan-rekan pers (wartawan dari Jubi, Cepos) yang hendak meliput aksi itu,” kata Kordinator SKP HAM Papua, Penehas Lokbere di Kantor KontraS Papua, Juma (09/10).

Pengamat Internasional dari Akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Marinus Yaung mengatakan, aksi yang digelar kemarin, Kamis (08/10/2015) tidak melawan dan bertentangan dengan Republik Indonesia, sehingga polisi jangan seenaknya mau bubarkan dengan gampang.

“Ini kami masih meminta dan tuntut kepada pak Presien Joko Widodo (Jokowi) atas perjanjiannya untuk segera tuntaskan kasus Paniai Berdarah saat Jokowi datang ke Papua pada natal nasional lalu. Maka, polisi harus tahu dan memahami alur demonya seperti apa,” tutur Marinus Yaung.

Oleh karena itu, guna menyikapi aksi pembubaran ;paksa tersebut, pihaknya hendak menegaskan sebagai berikut, (1). Bahwa aksi damai, Kamis (08/10) telah dilakukan secara damai, di mana massa aksi tidak menyampaikan orasi yang berbaur makar (separatis) dan tidak melakukan tindakan anarkis sehingga tidka layak dibubaran secara paksa oleh aparat kepolisian. (2). Perilaku pembubaran paksa aksi damai kemarin oleh aparat Kepolisian merupakan perilaku keji yang menodai nilai kemanusiaan dan membuat orang tidak lagi berani menyampaikan pendapat yang benar dan kritis di muka, meskipun dijamin oleh konstitusi Indonesia. (3). Mengutuk tindakan pembubaran paksa aks damai SKP-HAM yang dilakukan aparat kepolisian karena tindakan ini tidak menghormati kebebasan berkumpul, berpendapat dan kebebasan mengemukakan pendapat yang dijamin oleh prinsip-prinsip demokrasi. (4). Kami meminta pertanggung jawaban dan menuntut profesionalitas aparat kepolisian dalam penanganan aksi-aksi damai. (5). Meminta Kapolda Papua untuk melakukan pencopotan terhadap Wakil Kepala Kepolisian Resort Kota (Wakapolresta) Jayapura Kota, Kompol Albertus Adreana, karena telah bertindak gegabah dan anarkis dalam penanganan aksi damai yang dilakukan SKP-HAM kemarin.(Abeth You)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

.

.

Populer

BERITA