Latest News

.

.

Jumat, 05 Februari 2016

RAHASIA BIN TERBOCOR

Foto Kepala BIN

DOKUMEN setebal 35 halaman yang mengklaim bersumber dari BIN tersebut membagi “garapannya” dalam 4 kategori pengelompokan yakni (1) Front Politik, (2) Pro NKRI, (3) Mahasiswa Papua di luar Papua, (4) Tokoh Agama atau Tokoh Adat.
Secara umum dokumen yang diragukan kesahihannya oleh Sundawan Salya, Direktur Informasi BIN dalam sesi wawancara dengan Siydney Morning Herald tersebut berisikan profil aktifis, anteseden (riwayat aktifitas target yang ditengarai membahayakan-Red), kekuatan dan kelemahan, pelaksanaan (strategi pendekatan dan penggalangan-Red), pencapaian sasaran baik minimal ataupun maksimal, serta periodisasi waktu pelaksanaan.

Ada 9 nama aktifis yang menjadi garapan BIN dalam kelompok Front Politik, diantaranya Buchtar Tabuni, Markus Haluk, Frits Ramandey, Forkorus Yaboisembut, Agus Kosay, Sebby Sembom, Ishak Wetipo, Olga Hamadi, dan Yason Ngelia.
Buchtar Tabuni, kelahiran Yapen Waropen, 16 September 1979 di identifikasi melakukan sejumlah anteseden sebagai aktifis yang getol menyuarakan pelanggaran HAM di Papua, mendukung pendirian International Parliamentarians for West Papua (ILWP), terlibat kerusuhan di LP Abepura, dan berstatus DPO Polda Papua yang kabur ke PNG.

Sosok Buchtar Tabuni di identifikasi memiliki kekuatan mampu kerahkan massa khususnya orang pegunungan untuk laksanakan aksi unjuk rasa anarkhis dan pandai berorasi menggunakan bahasa daerah, namun kelemahannya adalah perempuan dan miras.
Sedangkan pola – pola yang diterapkan untuk menggarap Buctar Tabuni adalah pola konstruktif, dengan teknik dan strategi atau taktik mulai dari penyusupan, pengarahan, pecah belah hingga lempar pesan dan melalui media, dengan melibatkan beberapa LSM sebagai pelaksana.
Adapun kegiatan – kegiatan yang dirancang diantaranya update estom, membangun komunikasi, cipta opini, press release ke media, penanaman wawasan kebangsaan (wasbang), melibatkan KNPB organisasi yang dipimpin Buchtar Tabuni dalam kegiatan meningkatkan SDM Papua hingga Seminar Sehari Peran KNPB dalam Optimalisasi Kebijakan Otsus Papua.

Masih dalam dokumen tersebut, target yang diharapkan adalah agar minimal Buchtar Tabuni mau mendukung Otsus Papua dan target maksimal dukung Papua bagian dalam NKRI, dimana giat tersebut di laksanakan antara bulan April – Oktober 2014 lalu.
Target garapan kedua sebagaimana dimaksud dalam dokumen yang dibantah oleh BIN itu adalah Markus Haluk, mantan Ketua Aliansi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua Indonesia (AMPTPI) yang di identifikasi sering terlibat aksi unjuk rasa dan seminar menuntut Papua lepas dari NKRI dan selalu mengkritisi kebijakan pemerintah dalam setiap aksinya, menolak kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang tidak menyentuh masyarakat asli Papua.

Adapun kekuatan dan kelemahan Markus Haluk sebagaimana termaktub dalam dokumen yang dibantah kesahihannya oleh BIN itu, disebutkan Markus Haluk mampu menggerakkan mahasiswa pegunungan non mahasiswa dan mampu membuat propaganda lewat media.
Sedangkan kelemahan Markus Haluk adalah uang dan perempuan, bahkan disebutkan Markus Haluk adalah binaan BIN Daerah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

.

.

Populer

BERITA